Kesalahan Dalam Lafal Takbir Hari Raya

Waqaf secara sederhana dapat diartikan sebagai penghentian bacaan Al Qur’an karena sebab – sebab tertentu. Secara bahasa, waqaf berarti menahan dan menurut istilah, waqaf berarti memutuskan suara pada suatu kalimat dalam waktu tertentu, tidak begitu lama, kemudian mengambil nafas satu kali dengan niat untuk memulai kembali bacaan Al Qur’an.

Salah satu permasalahan penting dalam bab Waqaf adalah cara melafalkan suatu lafazh yang di-waqaf-kan. Permasalahan ini sangat penting karena kesalahan dalam melafalkan suatu lafazh yang di-waqaf-kan, dapat membuat makna lafazh tersebut melenceng.

Pada saat hari raya, saya dengar masih banyak kaum muslimin di Indonesia yang mengucapkan lafazh takbir dengan salah (terutama di dusun saya). Kesalahan yang paling banyak terjadi adalah kesalahan dalam mengakhiri lafazh takbir tersebut. Kesalahan ini berhubungan dengan salah satu hukum tajwid yaitu Waqaf Raum atau Waqaf ‘Isyarah.

Waqaf Raum adalah mengucapkan sebagian harakat, hanya agar terdengar oleh orang yang berdekatan saja, bukan orang yang berjauhan.

Lafazh takbir yang sering salah dalam pengucapannya adalah lafazh yang berbunyi

وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Dan milik Allah-lah segala pujian

Lafazh ini jika di-waqaf-kan tergolong sebagai Waqaf Raum karena huruf yang terakhir disukunkan, diawali oleh huruf yang bersukun pula, sehingga seharusnya dibaca “wa lillahil hamd”, dengan bunyi suara dal yang dibaca sepertiga harakat sebagai isyarat. Contoh pengucapan yang benar dapat didengarkan pada file audio berukuran 135 Kb yang dapat Anda download di sini.

Kenyataan yang terjadi di kalangan kaum muslimin saat ini, ada yang melafalkannya dengan

وَلِلّٰهِ الْحَمّ

Nauzdu billahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari segala kebodohan. Pada lafazh ini, huruf dal hilang dan huruf mim ditasydidkan. Akibatnya, maknanya pun melenceng jauh dari yang sebenarnya. Seharusnya “dan milik Allah-lah segala pujian” menjadi “dan milik Allah-lah segala panas/demam”.

Selain pengucapan seperti di atas, ada pula yang melafalkannya dengan

وَلِلّٰهِ الْهَمّ

Sekali lagi kita berlindung kepada Allah dari segala kebodohan. Pada lafazh ini, huruf dal hilang, huruf mim ditasydidkan, dan huruf ha’ menjadi ha sehingga maknanya melenceng jauh dari maksud sebenarnya. Makna yang seharusnya “dan milik Allah-lah segala pujian” menjadi “dan milik Allah-lah segala kecemasan”.

Jika masih ada yang melakukan kesalahan seperti di atas, marilah kita betulkan kesalahan – kesalahan pengucapan takbir tersebut, mumpung masih ada hari Tasyrik untuk memperbanyak takbir kita.  Dan betulkanlah kesalahan serupa yang masih dilakukan oleh saudara- saudara kita kaum muslimin. Marilah kita perbanyak pula menuntut ilmu agama agar amalan – amalan kita semakin berkualitas serta keimanan kita pun meningkat. Wallahu a’lam bi shawab.

Sumber : Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap karangan Ust. Acep Iim Abdurohim, bab Waqaf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s