Ada Udang di Balik Kegagalan Cintaku

Tanggal 22 Januari , mengingatkanku akan suatu kejadian 1 tahun yang lalu, kejadian yang menggetarkan hatiku dan hati keluargaku, kejadian ketika Allah telah menunjukkan bahwa Allah telah memberikan aku jalan yang terbaik meskipun diriku ini terkadang masih belum bisa berbaik sangka pada-Nya.

Kisah ini berawal dari kisah ta’arufku dengan seorang akhwat berinisal ’Y’. Akhwat yang berdomisili di sebuah kota pelajar yang juga merupakan kota kelahiranku dan kota tempat tinggal orang tuaku. Awal Agustus 2008, itulah tepatnya aku memulai ta’aruf dengan akhwat tersebut melalui bantuan seorang teman kuliah.

Saat itu aku sedang berada di negeri Serambi Mekah, Nanggroe Aceh Darussalam, untuk mengais rejeki. Hidup sebagai perantau awalnya tidaklah mudah bagiku yang selama ini telah hidup bersama keluarga yang penuh kehangatan. Kesepian dan kerinduan, itulah yang membuat keinginan untuk segera memiliki teman hidup semakin kuat. Keinginan untuk segera melaksanakan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun semakin menggebu – gebu.

Keinginan untuk menikah telah kuberitahukan kepada beberapa orang teman dengan harapan mereka bisa membantu. Alhamdulillah, beberapa tawaran ta’aruf melalui perantaraan teman pun datang. Namun semuanya belum ada yang berhasil sampai pada suatu saat teman kuliahku, sebut saja R, memberi tawaran untuk berta’aruf dengan seorang akhwat berinisial ‘Y’ yang merupakan kenalan barunya. R pun menceritakan profil singkat tentang Y dan aku pun setuju untuk berta’aruf dengannya. Saat itu hatiku merasa mantab untuk berta’aruf dengan Y. Kemantaban hati tersebut kuyakini sebagai jawaban shalat Istikhoroh-ku selama ini.

Beberapa hari aku menunggu dengan rasa dag dig dug dan rasa tak sabar. Aku bertanya – tanya akhwat seperti apakah yang akan berta’aruf denganku. Tung triiiingg …. sebuah SMS masuk. Pesan singkat tersebut adalah pesan singkat dari R. Ia memberitahukan bahwa biodata Y telah dikirimkan melalui e-mail. Tanpa menunggu lama, segera kujalankan Mozilla Firefox-ku kemudian kubuka email-ku. Ada sebuah email baru kiriman R. Tiga buah attachment, sebuah file berisi biodata, dan dua buah file JPG, itulah isi e-mail tersebut. Dengan beberapa kali klik, attachment tersebut mulai terunduh.

Koneksi internet yang pas-pasan memaksaku untuk bersabar menunggu proses pengunduhan selesai. Klik klik … klik klik. Satu per satu file tersebut segera aku buka karena proses pengunduhannya telah selesai. Kubaca pelan – pelan biodatanya dan kulihat satu persatu fotonya. Kesan pertama … hmmm ini dia yang aku cari. Tampilan fisik yang dibalut hijab syar’i menggetarkan hatiku. Sosok akhwat sholehah yang tidak hanya sholeh pribadi tapi juga sholeh sosial. Itu semua tergambar dari biodatanya. Kepergian sang ibu beberapa tahun yang lalu nampaknya telah membuat diri si akhwat menjadi tertempa dengan kemandirian. Apalagi semenjak kepergian ibunya, dia menjadi satu – satunya wanita di keluarga sederhana itu. Sungguh akhwat seperti inilah yang aku dambakan. Namun aku tidak ingin terlalu terburu – buru memutuskan. Aku tidak langsung menjawab untuk lanjut atau tidak. Tiga hari, itulah waktu yang aku minta pada R agar aku bisa meminta petunjuk pada Allah Yang Maha Mengetahui.

Shalat Istikhoroh telah aku lakukan, doa minta petunjuk tak pernah terlewat dari setiap doa akhir shalatku, kemudian pada hari ketiga kukatakan pada R bahwa aku ingin melanjutkan proses. Sebuah biodata dan dua buah fotoku dalam format JPG kukirimkan pada R agar bisa diberikan pada Y.

Saatnya ukhti Y berpikir dan memutuskan. Dag dig dug dag dig dug … aku pun berharap – harap cemas. Doapun kupanjatkan selalu, “Ya Allah, jika sekiranya ukhti Y adalah jodohku, maka berikanlah aku dan keluargaku kemantapan hati, begitu pula ukhti Y dan keluarganya. Dan berikanlah kami kemudahan dalam menjalankan sunnah Rasulmu yaaa Allah”. Tak sampai sepekan kemudian jawaban pun datang. Sebuah jawaban yang betul – betul membuatku sangat bahagia saat itu. Ukhti Y bersedia untuk melanjutkan proses. Alhamdulillah …. senengnyaaaa

Pada proses selanjutnya kami berdua saling mengajukan permintaan data yang perlu dilengkapi disertai beberapa pertanyaan. Semua dilakukan melalui e-mail. Kurang lebih satu pekan, proses ini pun selesai dan hasilnya … alhamdulillah kami berdua sepakat untuk lanjut bahkan ayahnya pun sudah memberi ijin.

Perasaan bahagia tidak dapat kupungkiri. Hatiku pun begitu berbunga – bunga. Seringkali terbersit angan – angan kebahagiaan dengan dirinya di hari yang akan datang. Namun aku selalu berusaha untuk mengingatkan diriku agar jangan terlalu jauh berangan – angan dulu karena segala kemungkinan masih bisa terjadi. Kegagalan masih mungkin menghampiri.

Ingin rasanya aku segera meminta orang tuaku untuk segera melamarnya karena aku sudah sangat yakin pada akhwat tersebut tapi aku teringat satu sunnah yang belum aku lakukan. Sunnah itu adalah nadhor (memandang). Dalam sebuah buku yang pernah aku baca, sang penulis yang juga seorang ustadz dari Jogja tersebut mengatakan bahwa nadhor itu tidak cukup diwakili dengan foto saja. Melihat langsung itu lebih afdhol daripada hanya melalui foto. Apalagi di era modern ini, segala macam manipulasi foto dapat dilakukan. Hal tersebutlah yang membuatku mengurungkan niat untuk meminta orang tuaku segera melamarnya. Aku ingin nadhor terlebih dulu baru kemudian melamarnya.

Apa yang terpikir dibenakku itu kusampaikan pada R dan kukatakan bahwa insya Allah aku akan silaturahim ke rumah Y pada tanggal 21 September, beberapa hari sebelum lebaran. Y pun memberikan tanggapannya dan ia menyatakan bersedia untuk menungguku. Alhamdulillah, aku bersyukur dia bisa memahami alasanku. Beberapa hari berselang, seorang temanku memberitahukan bahwa ada sebuah maskapai penerbangan yang sedang mengobral tiket promo. Satu juta rupiah untuk perjalanan dari Medan sampai Jakarta. Harga yang cukup murah. Kesempatan itu tidak kusia-siakan apalagi mengingat bahwa harga tiket saat lebaran bisa melambung tinggi. Kutelepon segera maskapai tersebut kemudian kukirim uang pembayarannya melalui ATM. Lega sudah … tiket kepulangan sudah di tangan.

Tiket sudah kudapat dan waktu untuk silaturahim ke rumahnya sudah kutentukan. Trus kapan lamarannya yaa ? Aku pun mulai membuat rencana di selembar kertas. Tertulis lamarannya 4 hari setelah lebaran, beberapa hari sebelum aku kembali ke Aceh dan nikahnya bulan November. Semua sudah terencana dan kedua orang tuaku pun sudah mengetahui semuanya. Ibuku yang sering ngotot agar aku menunda menikah sampai kehidupanku mapan, punya rumah dan berbagai fasilitas lainnya, akhirnya mau mengerti dan menyetujui proses yang sedang berjalan.

Menunggu hingga kepulanganku bukanlah waktu yang sebentar, kurang lebih masih 1 bulan. R merencanakan agar kami bisa conference menggunakan salah satu layanan chating yang populer di dunia maya. Hari untuk conference sudah ditentukan, namun pada hari tersebut dia tidak bisa karena ada saudaranya yang meninggal. Hari pengganti pun ditentukan. Namun pada saat hari yang telah ditentukan itu tiba, dia juga tidak bisa. Hari pengganti yang kedua pun ditentukan lagi, 18 Agustus 2008.

Pada hari Ahad itu aku sudah siap di depan komputer. Namun sampai lewat setengah jam lebih dari waktu yang telah ditentukan Y belum juga online, begitu pula R. Karena sudah tidak sabar, akhirnya aku bertanya pada R melalui SMS. R mengatakan bahwa perutnya sedang sakit sekali sehingga ia tidak bisa datang dan dia juga mengatakan bahwa selama beberapa hari Y tidak bisa dihubungi untuk memastikan jadi tidaknya rencana hari itu. R juga tidak bisa ke rumahnya karena pekan itu ia sedang mudik. “Waah ga jadi lagi nih”, kataku dalam hati. Tiba – tiba R teringat bahwa Y sempat memberitahu via SMS bahwa dia mengirim e-mail kepada R, hanya saja Y tidak mengatakan isi e-mail tersebut. Kemudian R pun menyuruhku membuka e-mail pribadinya, siapa tahu e-mail tersebut berkaitan dengan rencana conference, bukan tentang masalah kuliah seperti biasanya. R pun memberikan kata kunci e-mail pribadinya agar aku bisa melihat e-mail kiriman Y sambil berpesan, “Awas yoo … jangan buka yang lain – lain. Ne macem – macem tak jitak kowe !!!”. Aku pun terheran – heran pada R, sebegitu percayanya dia padaku hingga kata kunci e-mail pribadinya pun dia berikan. Kepercayaannya padaku adalah sebuah penghargaan dan pasti aku akan menjaga penghargaan itu dengan tidak membuat dirinya kecewa.

Cetak cethuk cethak cethuk … e-mail R pun terbuka. Nampak sebuah surat elektronik yang aku kenal pengirimnya, ukhti Y. Segera saja kubuka e-mail kiriman ukhti Y yang telah ia kirim pada hari Jum’at itu. Diriku bagai disambar petir saat membaca e-mail itu. Tubuhku terasa lemas, dadaku terasa sesak, semangatku hidup seakan – akan sirna. Sungguh sangat hancur hatiku saat itu. Ukhti Y mundur dari proses ta’aruf. Seorang ikhwan telah datang menemui ayahnya untuk mengkhitbah dirinya dan ayahnya telah menyetujuinya. Ukhti Y yang sangat berbakti pada ayahnya tidak bisa banyak berkata – kata untuk menolak keinginan ayahnya. Ayahnya tetap keukeuh dengan pendapatnya meskipun ia tahu bahwa putrinya sedang menjalani proses denganku. Aku pun tak bisa berbuat apa – apa meskipun hati ini sebenarnya ingin berontak. Tapi apa dayaku ….

Aku pun pulang dengan mengusung setumpuk kesedihan. Banda Aceh yang sudah beberapa pekan panas pun hari itu turun hujan. Langit Banda Aceh seakan – akan tahu akan kesedihan hatiku. Kesedihan yang telah membuat hidupku jadi menderita. Orang tuaku yang sudah bermimpi mempunyai menantu pun merasa sedih bukan kepalang. Seorang menantu yang telah diidam – idamkan ternyata tidak jadi bersanding dengan anaknya. Tung triiing …. sebuah SMS masuk ke handphoneku. Pesan dari ayah tercinta yang berisi sebuah nasehat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk hamba – hambanya, “… boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Potongan Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 216 itu begitu menyentuh hatiku meskipun saat itu aku masih sangat sulit menerima kenyataan yang terjadi. Masih sangat sulit bagiku untuk berpikir positif atas apa yang telah Allah tetapkan padaku. Ayat tersebut aku hafalkan, aku baca berulang-ulang, aku pahami dan aku resapi maknanya. Alhamdulillah beban kesedihan ku pun dari hari ke hari semakin ringan. Aku sadar, aku harus segera bangkit karena tak berapa lama lagi aku harus menghadapi wawancara akhir di sebuah BUMN di negeri ini.

Hari demi hari pun lalu. Waktu kepulanganku akhirnya tiba. Pada tanggal 20 September itu orang tuaku menyambut kedatanganku. Air mataku yang tak terbendung lagi tertumpah dipelukan mereka. Air mata kerinduan setelah berbulan – bulan tidak bertemu dan air mata luapan kesedihan atas kegagalan yang baru saja aku hadapi. Ayah dan ibuku menenangkanku. Berbagai nasehat mereka berikan padaku. Ayahku mengatakan, “Seorang ayah pasti akan berat melepas putri satu – satunya pergi ke luar pulau Jawa meninggalkan rumahnya. Terlebih lagi putrinya tersebut adalah pengganti sosok seorang ibu di rumah tersebut. Mungkin itu juga yang menjadi pertimbangan bagi ayah ukhti Y”. Perkataan ayahku tersebut membuatku semakin bisa memaklumi semua yang telah terjadi. Aku hanya bisa berdoa pada Allah, semoga Allah memberikanku teman hidup yang lebih baik lagi.

Libur lebaran akhirnya usai. Aku kembali ke Banda Aceh dan meneruskan rutinitas kerjaku seperti biasa. Beberapa bulan setelah kejadian itu terjadi, sempat kutanyakan kabar ukhti Y pada R dan dia berkata bahwa Y akan menikah bulan Januari nanti. Terbersit dipikiranku untuk datang ke walimahan Y sekadar untuk mengetahui seperti apa dirinya. Namun segera saja kubuang jauh pikiran itu dan kukatakan pada diriku bahwa aku harus bisa ikhlas menerima apa yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala.

Tahun pun berganti, teman hidup yang aku dambakan masih belum juga aku temukan. Liburan panjang di Jogja aku gunakan sebaik – baiknya untuk mencari teman dambaan hati tersebut tapi belum ada hasil juga. Tanggal 22 Januari 2009, dua hari sebelum keberangkatanku ke Aceh, masuk sebuah pesan singkat ke HPku tepat pukul 8:13 malam. Isi pesan singkat dari R itu tertulis seperti ini “Nip, Y meninggal nip”. Berita yang sangat mengejutkan. Namun diriku tidak percaya dengan pesan singkat yang panjangnya hanya 4 kata tersebut, kemudian segera saja kutelepon R untuk memastikan kebenaran SMS-nya. Seusai menelpon R, tubuhku merinding sejadi – jadinya. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Rasa sedih yang sangat mendalam kehilangan seorang yang pernah hampir menjadi teman hidup beriring rasa syukur dan rasa takjub atas ke-Maha Besaran-an Allah yang telah memberikan aku petunjuk yang terbaik. Aku baru sadar hikmah dari kegagalanku saat itu. Terbayang olehku, tentu akan lebih terasa sedih hatiku ketika aku menikah dengan Y kemudian harus kehilangan dia di saat usia pernikahan masih muda. Subhanallah, Maha Suci Allah. Allahlah yang tau tentang apa yang terbaik untuk hambanya.

Berita tersebut pun kuceritakan pada ayah, ibu, dan adikku. Rasa sedih dan rasa takjub juga menghinggapi diri mereka. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, itulah pesen yang sempat diucapkan oleh ayahku dan memang itu telah terbukti.

Jum’at itu, kugelindingkan roda motorku untuk mencari rumah Y yang berada di pinggiran barat kota Jogja. Dengan beberapa kali bertanya akhirnya kutemukan rumah sederhananya yang saat itu diramaikan oleh orang – orang termasuk beberapa muridnya yang masih berseragam SMU. Kuambil air wudhu dan kemudian kudatangi dirinya. Bulan Januari yang seharusnya jadi bulan pernikahannya, tetapi malah menjadi bulan kepergiannya. Kain putih yang seharusnya adalah gaun pengantin berendakan benang – benang kebahagiaan, tetapi malah menjadi kain kafan pembungkus badan. Shalat jenazah teriring doa kupanjatkan dihadapannya dengan harapan dia mendapatkan pengampunan dosa dan tempat mulia di sisi Sang Kholiq.

Di saat takziyah, kusempatkan untuk mengobrol dengan seorang bapak yang duduk di belakangku. Bapak – bapak yang masih merupakan kerabatnya tersebut mengatakan bahwa sebelum Y meninggal, ia sempat beberapa kali opname di rumah sakit. Sebuah penyakit langka bernama Lupus-lah yang menjadi penyebab kepergiannya. Penyakit yang juga telah mengakibatkan ibu Y meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Jenazah sudah siap diberangkatkan. Tampak seorang lelaki berumur 50-an berdiri tegap di depan keranda mayat yang telah terusung, itulah bapak Y. Di belakangnya, adik Y yang paling besar sedang berdiri memikul keranda yang berisi jenazah kakak tercintanya dan adik laki – lakinya yang berusia SMP tampak bersandar di sebuah pohon dengan ekspresi wajah penuh kesedihan. Kalimat tahlil pun berkumandang. Keranda jenazah yang berodakan manusia itu pun mulai bergerak menuju sebuah liang lahat yang berada tak jauh dari masjid yang berada di dusun itu. Selamat jalan teman. Pelajaran berharga dari kisah kita, tak kan pernah kulupakan.

Ada udang di balik batu

Ada hikmah di balik kegagalan cintaku

Saudaraku, yakinilah bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Sesuatu yang tampak baik di mata kita, belum tentu baik di hadapan Allah. Berprasangka baiklah pada Allah atas segala ketetapannya karena di balik segala ketetapannya ada berbagai hikmah yang mungkin belum kita ketahui atau tidak pernah kita sadari. Bersabarlah di setiap datang cobaan dan bersyukurlah di setiap datang kenikmatan. Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa memberi kita hidayah-Nya.

Download Versi PDF

8 thoughts on “Ada Udang di Balik Kegagalan Cintaku

  1. Assalamu’alaikum…
    Nif…sampai kapanpun, meski topan besar yang menghadangmu..
    Tetaplah menjadi Hanif yang memiliki pribadi Hanif ^_^
    Orang sebaik Hanif pasti akan mendapatkan
    orang yang baik juga…Amin.
    Dan aku yakin atas janji Allah SWT itu.

  2. Mas hanif ternyata punya talent luar biasa..tulisan serta pnglaman hidupmu banyak pelajaran yg dapat di ambil hikmahnya. Semoga sukses akn selalu bersamamu di masa depan. amiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s